Kebab Wagen – Kebab On Wheels

Posted by at 9:57 am 0 Comment Print

Tampil mencolok dengan gaya klasik VW Combie, Kebab Wagen sukses membuat gebrakan di dunia kebab tanah air dengan konsep jualan di atas roda empat. Bahkan, keunikan produk yang diusungnya berbeda dengan kebab yang kebanyakan ditemui saat ini. Ide jenius yang berpotensi mendatangkan fulus. Seperti apa konsepnya?

Jangan ditanya lagi tentang penetrasi bisnis kebab di tanah air. Sejak awal tahun 2000-an keterpopuleran makanan khas timur tengah ini begitu menghebohkan. Lihat saja, di setiap lokasi strategis, akan mudah dijumpai booth-booth atau gerobak dengan berbagai merek kebab yang berkompetisi memperebutkan ceruk pasar kebab.

Persaingan tersebut tentu saja membawa dampak positif bagi perkembangan industry ini. Bagaimana tidak, dengan menjamurnya pemain kebab, popularitas makanan kebab semakin merangkak naik. Secara kasat mata, ada puluhan merek bisnis kebab yang kini menikmati “kue” pasar ini. Meski demikian, dibalik peluang bisnis yang besar, sejatinya bila tidak diimbangi dengan kekuatan konsep dan inovasi serta diferensiasi yang kuat, tidak sedikit pula pemain yang akhirnya gulung tikar.

Sadar akan persaingan bisnis yang cukup ketat, Kebab Wagen hadir membawa perubahan yang cukup mencolok untuk bisnis dengan core kebab sebagai main menu-nya. Kebab Wagen menggunakan VW Combi sebagai media jualannya lengkap dengap warna dan aksesoris yang mengundang perhatian banyak orang.

Tidak hanya metode jualannya yang berbeda, dari soal menu juga mengalami perubahan. Jika kebab pada umumnya menggunakan mayonnaise sebagai saosnya, tapi tidak dengan Kebab Wagen. Yogurt dipilihnya sebagai pengganti saos mayonnaise. Loh? Seperti apa rasanya? Jangan takut, sebab sang empunya Kebab merupakan pria yang telah berpengalaman selama lima belas tahun berkecimpung di dunia masak. Bahkan, saat ini ia masih tercatat sebagai executive chef Rustique Grill & Wine dan Immigrant Jakarta.

Adalah pasangan suami istri Fany Hermawan dan Kathy Kirana Kunfaya yang menelurkan konsep Kebab Wagen. Pasutri yang belum lama menetap di Indonesia setelah sebelumnya berdomisili di Australia ini adalah penggemar berat kebab. Seringkali, ketika masih berada di Melbourne, mereka hunting kebab paling lezat disana. Namun, ketika tiba di Jakarta, mereka mengatakan belum menemukan kebab dengan rasa yang lezat dan otentik.

“Kami penggemar berat kebab. Selama kami kembali ke Jakarta, kami belum menemukan kebab yang enak. Di Australia, di sana banyak kebab dengan rasa yang enak-enak. Kemudian, saya berpikir untuk menghadirkan kebab dengan rasa yang pernah saya rasakan di Australia dengan terlebih dulu kami modifikasi agar sesuai dengan taste masyarakat Indonesia,” kisah Fany, pria yang berpengalaman menjadi chef selama 15 tahun.

Melengkapi penjelasan sang suami, Kathy mengungkapkan, ia sangat mengerti ketika itu pemain di bisnis ini sudah cukup banyak. Oleh karenanya, dibutuhkan sentuhan khusus dan berbeda agar mampu bersaing. Kemudian ia dan sang suami berpikir bagaimana cara mengemas agar bisnis ini menarik. Terpikirlah mobil VW Combi.

Megang, diakui Fany, berbeda dengan mobil baru, VW Combi memiliki perawatan khusus dan dana lebih untuk perawatan yang mesti dipersiapkan. Mesin tua, kondisi tidak bisa dimaksimalkan dalam hal jarak, ganti oli setiap dua minggu, dan lain-lain.

“Namun demikian, kalau menurut saya, untuk mobil kelasnya VW Combi gk ada duanya. Artinya, sampai kapan pun gk ada matinya, classic. Kalau jaman dulu VW biasanya dipakai untuk jualan es krim, donat. Makanya kami memilihnya karena secara historikalnya juga ada. Dan sebenarnya untuk menggunakan mobil yang lain dan baru itu banyak, namun gk semenarik VW Combie,” jelas Fany.

Bila dikalkulasikan investasi yang dibutuhkan untuk membeli, merenovasi, serta produk-produk Kebab Wagen di perlukan dana sekitar Rp 200-an juta. Rinciannya sebagai berikut; pengadaan mobil Rp 30 juta,  renovasi Rp 100 juta genset-trailer, produk kebab dan alat-alat pendukung Rp 30 juta, sisanya cost untuk mobilitas. “Kalau memang ingin dibuat lebih murah tentu bisa, hanya kami mau menjaga kualitas walaupun jualannya di jalanan,” tutur Kathy.

Konsep yang pertama di Indonesia ini langsung mendapatkan respon yang luar biasa. Fany menuturkan, baru 3 bulan beroperasi di Jakarta, mereknya sudah ditawarkan kerjasama oleh warga Kuala Lumpur, Malaysia. “Sejak bulan ketiga, kami sudah mau dibeli orang dari Malaysia. Bahkan, untuk menunjukkan keseriusannnya, mereka meninjau kesini langsung dan memesan dua mobil langsung. Akan tetapi kami belum sanggup. Kami belum matang secara intern dan system. Banyak hal yang perlu kami persiapkan dan matangkan. Kami tidak ingin menjadi merek yang gampang terbit tapi mudah tenggelam,” tutur Fany dan Kathy serempak.

VW Combi Kebab Wagen ini memang didesain khusus. Corak dan warna yang pastinya akan mengundang konsumen dilengkapi dengan balutan serba stainless steel high quality di setiap meja, etalase, dan berbagai media lainnya.

Terkait produk, menurut Fany, bila dibandingkan dengan kebab Australia yang sering menjadi santapannya dulu dengan yang di Indonesia, ada skitar 30% perbedaan. Di sini (Indonesia.red) menggunakan mayonnaise sebagai sausnya, namun kai berbeda. Hanya kami yang menggunakan yogurt sebagai sausnya, ada juga saus yang memang sengaja kami import dari Yunani. Namun untuk mengakomodir lidah Indonesia, tetap kami sediakan juga mayonnaise namun telah kami kombinasikan dengan rasa lain. Menurut kami kebab otentik itu gk menggunakan mayonnaise. Bahkan, di luar otentiknya menggunakan daging kambing, bukan sapi,” tandasnya.

Kathy menambahkan, untuk bahan baku, dirinya menggunakan sekitar 80% produk local dan 20% sisanya import.beberapa bahan baku selian saus dari Yunani, Kebab Wagen mengimport langsung lamb (kambing) dari Australia. Uniknya, banyak dari bahan-bahan merupakan produk homemade seperti roti. Menurut Kathy, hanya mayonaiese, yogurt, saos sambel dan cabe yang bukan homemade. Pilihan saus homemade (garlic & cucumber tzatziki, spicy mayo, sour chili, atau extra hot chili).

“Selama ini makanan jajanan identiknya dengan hal-hal negative seperti MSG, pengawet buatan. Itu alasan kami menggunakan produk home made dan juga menjadi konsentrasi kami untuk merubah mindset tersebut dengan tawaran produk yang berkualitas dan terjamin kesehatannya namun dengan harga yang terjangkau semua kalangan,” tukasnya.

Fany mengungkapkan, saat ini Kebab Wagen baru menawarkan dua macam menu yakni menu kambing dan ayam atau kombinasi keduanya. Akan tetapi, ke depannya segera menyusul menu-menu istimewa yang sudah familiar di lidah Indonesia seperti Fish Wagen, Tako Wagen, Dog Wagen. Nantinya akan ada sekitar 5 varian menu.

Tidak hanya itu saja, bila saat ini konsep jualannya masih mobile mengitari beberapa lokasi strategis di Jakarta. Nantinya, papar Fany, akan menetap di suatu lokasi yang strategis. Mobilitas saat ini adalah sekaligus sebagai media branding mereknya. Meski menetap, namun konsepnya akan tetap menggunakan VW Combi sebagai identitas. Di akhir tahun ini, rencananya Kebab Wagen yang akan segera menambah armada dan hadir di lebih banyak lokasi serta menawarkan peluang kerjasama kemitraan.

“Saya sudah lama berkecimpung di restoran-restoran besar, kini saya mulai berbisnis dari jalanan bukan tanpa sebab. Saya melihat ke depannya makanan-makanan enak sudah tidak lagi harus ditawarkan di restoran-restoran. Sebab harusnya bisa dimana saja dan untuk segala level. Ini berbicara makanan “Enak” lho, bukannya mahal! Mahal gk berarti enak, begitu pula sebaliknya enak pun gk harus mahal,” pungkas Fany.

Ide Usaha Laporan Utama

Related Posts

Leave a Reply

Connect

Photo Gallery