Bimbel – Ranking Menghitung Untung Dari Bisnis Bimbel Ranking

Posted by at 11:26 am 0 Comment Print

Dengan hanya investasi sebesar Rp 15 juta, sudah bisa punya usaha bimbel Ranking. Bagaimana peluang bisnisnya?

Persaingan di bisnis bimbel memang tidak mudah. Tingkat kompetisinya sudah bisa dibilang hyper atau sangat ketat. Sedemikian ketatnya, sampai-sampai kalau hanya mengandalkan bimbingan belajar saja, tanpa ada inovasi dan pelayanan yang customized terhadap konsumen, hampir pasti, bisnis bimbel Anda makin sulit mendapat pelanggan. Mengapa hal itu terjadi? “Karena banyak pemain bimbel besar yang sudah sukses melakukan cara dan strategi bimbingan belajar konvesional, mereka pun sudah berinovasi dengan meluncurkan metode pembelajaran yang baik dan terintegrasi. Jika kita ‘hanya’ mengikuti tanpa ada inovasi dan kualitas program yang ditawarkan juga biasa-biasa saja, konsumen pun enggan untuk datang,” kata Noval Aspani, Owner Bimbel Ranking.

Noval terinspirasi dari istilah pemeringkatan yang diukur dari prestasi siswa atau rangking. Alasannya, jika istilah “Prestasi” yang digunakan, menurutnya kata tersebut sudah jamak alias pasaran. “Karena itu saya namakan “Ranking, agar terlihat lebih gengsi dan prestise,” katanya. Dan kata “Prestasi” sudah sangat umum dan banyak digunakan orang untuk membesut sebuah brand. Sedangkan kata “Ranking” imbuhnya, jarang yang menggunakan dan lebih tepat sasaran untuk meningkatkan kualitas peserta didik dan mengejar peringkat bergengsi di sekolah.

Ketertarikannya pada dunia pendidikan, membuat Noval ingin berbisnis di bidang tersebut. Ia memulai usahanya sejak tahun 2006 dan fokus ke usaha bimbel. Awalnya, ia membuat merek sendiri dan mengoperasikan bisnisnya secara mandiri. Beberapa lama setelah ia jalani, Noval pun tertarik membeli sebuah brand bimbel dengan sistem franchise, namun itu tidak lama. Karena secara support dan proteksi wilayah, tidak diatur secara rinci dan tegas oleh franchisornya, dan hal inilah yang membuat Noval goyah. “Saat itu saya sedang berkembang dengan jumlah murid sampai 300 ke atas, Franchisor itu membuka gerai baru yang tak jauh dari lokasi outlet saya,” katanya.

Saat itu, kondisi bisnis bimbelnya sedang berada di atas angin. “Ada pesaing namun tidak sampai membuat posisi bisnis saya goyang,” katanya. Hal itu karena Noval sudah membuat  sistem dan SOP yang baik, sehingga bisnisnya bisa jalan tanpa kehadiran dirinya secara langsung atau autopilot. “Praktis selama itu saya hanya jalan-jalan, berenang dan diskusi dengan kawab-kawan komunitas,” katanya. Namun, karena tidak pernah dikontrol, bisnis bimbel franchisenya perlahan mulai mengalami penurunan performa. “Sampai sebagian besar karyawan saya berhentikan dan pindah ke bimbel pesaing,” katanya.

Sampai-sampai Ia pun harus turun tangan dan mengelola operasional bisnis sendiri, Noval mulai melibatkan istrinya untuk memulai merajut kembali bisnis bimbelnya yang dulu sempat jaya dan harus mulai membangun lagi. Kini, dengan brand barunya, Bimbel Rangking, Noval belum habis. Ia pun konsen pada pengembangan dan pengayaan materi pengajaran, serta konsep pemasaran yang inovatif, produktif, dan lebih beda dari yang ditawarkan pesaing.

“Saya mulai membuat strategi semi privat dan melibatkan sebanyak mungkin tenaga pengajar memberikan mereka share yang lebih baik sesuai dengan tingkat produktivitas mereka,” katanya. Dengan sistem ini, Noval menambahkan, ritme kerja SDM semakin membaik dan mereka mengejar nilai produktivitas untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Noval pun kini mulai membenahi penampilan  outlet dan service kepada pelanggan dengan baik “Sebab image kantor yang bersih, rapi, dan tertata itu merupakan cermin awal untuk orang bisa trust sama kita,” katanya. Karena itu, ia pun sia berbagi kesuksesan jika ada yang berminat menjadi mitra bisnisnya dalam upaya mengembangkan brand Bimbingan Belajar “Ranking”.

Buka Kerjasama Kemitraan dengan Investasi Terjangkau

Agar bisa menumbuhkan entrepreneur yang sukses dan tahan banting seperti dirinya, Noval mulai mengembangkan Ranking   dengan sistem kemitraan. “Mulai pertengahan tahun ini kami siap membuka kemitraan dengan investasi murah namun tidak murahan,” katanya sambil menebar senyum khasnya.

Untuk investasi, Noval mematok angka Rp 15 juta. “Biaya tersebut sudah termasuk semua item atau perlengkapan yang diperlukan untuk bisnis bimbel seperti sistem pengelolaan bisnis, training, SOP, dan program marketing,” katanya. Mitra, kata Noval, sudah siap untuk memulai bisnis bimbel. Yang perlu dipersiapkan mitra adalah tempat, dan tentu saja kesiapan mental untuk menjadi pengusaha dan harus bisa turun sendiri. “Sebab kalau langsung diserahkan ke orang lain, mitra tidak akan mengetahui bagaimana harus mendekati dan memasarkan bimbel ke sekolah-sekolah yang menjadi target potensial kami,” katanya. Karena itu, mitra harus siap turun dan mengontrol apa yang sudah dilakukan SDMnya di lapangan.

Untuk BEP, Noval menambahkan, mitra akan bisa mencapai BEP selama 6 bulan.   Selain itu, support yang diberikan kepada mitranya antara lain adalah training berkala, coaching (pelatihan dan pendampingan) bisnis, dan pemenuhan SDM. “Khusus untuk pemenuhan SDM, kami berikan jaminan bahwa SDM kami sudah terlatih dan berorientasi pada upaya memaksimalkan omset dan profit bagi mitra,” kata Noval.

Keunggulan lain dari Bimbel Ranking adalah mereknya sudah di-HKI-kan, pasarnya luas, dan harga investasinya terjangkau. Sehingga mitra yang bergabung akan cepat merasakan keuntungan dan nyaman dalam mengelola bisnis bimbel Ranking. “Target saya bisa buka 10 sampai 20 gerai tahun 2013,” katanya. Nah, siapa yang ingin jadi mitra Ranking?

Info Usaha

Related Posts

Leave a Reply

Connect

Photo Gallery