Hafizh Suradiharja (Owner Roti John) – Tampil Beda

Posted by at 11:27 am 0 Comment Print

Tinggal di lingkungan keluarga besar yang mayoritas berprofesi sebagai professional tidak membuat Hafizh Suradiharja mengikuti jejak keluarganya. Ia malah banting haluan dengan menjadi seorang entrepreneur di usia yang terbilang masih cukup muda. Langkah kelahiran 1988 ini juga tidak mudah, sebab, mental pengusaha mesti ia bangun sendiri.

Adalah sang kakek yang menginspirasi Hafizh untuk berwirausaha. “Kakek merupakan inspirasi saya menjadi pengusaha. Dulu, ketika saya masih sekolah dasar, kakek merupakan pengusaha daging. Dari hanya menjual daging saja, beliau sudah bisa memiliki kendaraan dan rumah dan serba berkecukupan. Bisa dibilang apa yang dilakukan kakek saya melebihi apa yang bisa dilakukan pegawai kantoran,” tutur Hafizh.

Berbekal inspirasi dari sang kakek yang merupakan seorang pebisnis, Hafizh begitu ia disapa, ngotot untuk terjun sebagai pebisnis. Kisahnya dimulai ketika berada di bangku kuliah. Berbagai bisnis pernah ia geluti mulai dari join di bisnis tour & travel, jualan kaset, seprei, sekolah DJ, hingga jualan es buah. Namun, semua usahanya tersebut tidak pernah berdiri lebih dari satu tahun dan gagal total.

Meski demikian, Hafizh tak patah arang. Menurutnya, tidak ada pengusaha yang sekali berbisnis langsung menuai kesuksesan. “Saya berpikir, pasti ada nilai plusnya dalam setiap kegagalan. Yang terpenting adalah masalah mental.  Kemudian saya instropeksi diri, lalu saya tarik benang merah dari sejarah kegagalan yang telah terjadi. Ternyata dari sana saya menemukan jika saya tidak memiliki nilai lebih di bisnis sebelumnya,” ulas Hafizh.

Kesabaran, mentalitas serta ketekunan Hafizh nyatanya memang berbuah manis. Pada tahun 2009 silam, ia mendirikan bisnis yang memang benar-benar beda. Bahkan, ungkap Hafizh, bisnisnya merupakan pionir di bidang ini.  Menurutnya, adalah pionir dan menjadi satu-satunya merek yang menjual roti yang popular di Singapura. Hafizh pun optimis bisnisnya akan semakin berkembang sebab diferensiasi yang belum ditemui di bisnis lain.

“Motivasi saya adalah untuk membahagiakan keluarga. Kalau menjadi pekerja, saya pikir hal tersebut akan sulit sekali terlaksana. Sebab, pegawai adalah pekerja bulanan yang sudah jelas pendapatannya. Sedangkan dengan berbisnis, jika kita berkeinginan untuk mengumpulkan uang satu miliar dalam satu jam pun bisa,” pungkas lulusan Ekonomi Management Universitas Islam Jakarta.

Syaiful Anwar

p? os? HO m menentukan pilihan mereka,” ujar Tejo.

 

Meski menjadikan empat produk yang sebenarnya bisa dijadikan empat jenis bisnis yang berbeda, Sheik Kebab tidak mematok nilai investasi yang tinggi. Menurut Tejo, nilai investasi disesuaikan dengan kemampuan dari calon mitranya. “Tentunya tergantung berapa produk yang mereka sanggup. Yang jelas, nilainya bisa lebih murah dari kompetitor,” ungkap Tejo.

Menariknya, Sheik Kebab tidak hanya berencana memitrakan usahanya. Tiga tahun belakangan, merek ini juga menjual aneka bahan baku dasar bisnis kebab. Hal ini dilakukan, sebagai landasan awal dan pematangan distribusi ke mitranya kelak. Menurut Tejo, mereknya telah mensuplai puluhan klien bisnis kebab. Tejo pun memberikan harga yang cukup bersaing. “Kami memberikan 30% harga yang lebih murah,” tuturnya.

Sayangnya, untuk kerjasama kemitraan dengan konsep yang sangat unik ini, Tejo belum ingin membuka peluang kerjasamanya di tahun ini. Alasannya, meskipun konsep telah matang, ia tidak ingin gegabah memitrakan usahanya. “Saya ingin bisnis ini bisa menjadi long time business bagi mitra. Bagi calon mitra yang berminat, kami siap membuka peluang kerjasama di awal tahun 2013 nanti,” pungkas Tejo.

Syaiful Anwar

Entrepreneur

Related Posts

Leave a Reply

Connect

Photo Gallery