Puspo Wardoyo (Founder dan Owner Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo) – Berbisnis Perlu Bikin Sensasi

Posted by at 2:25 pm 1 Comments Print

Berbisnis itu perlu membuat sensasi sebagi bagian dari strategi marketing. Sensasi apa yang dibuat oleh Puspo hingga mampu membesarkan namanya?

 

Puspo Wardoyo, Founder dan Owner Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, memang sangat dikenal dengan sensasi poligaminya. Sensasi ini mencuat saat Puspo menggelar Poligami Award pada tahun 2003. Namun sensasi inilah akhirnya yang membuat nama Puspo Wardoyo menggelinding ke dunia publisitas. Hal tersebut pun berpengaruh besar bagi perkembangan RM Ayam Bakar Wong Solo yang dirintisnya sejak tahun 1991.

“Saya memang sengaja mem-publish poligami ke tengah masyarakat. Saya ingin poligami ini memiliki citra yang baik di mata masyarakat. Jika yang saya lakukan ini dianggap sebuah sensasi itu memang benar. Karena berbisnis itu memerlukan sensasi sebagai bagian dari branding, promosi, dan marketing,” kata Puspo.

Terlepas dari ramainya perbincangan seputar sensasi poligami yang dilakukan Puspo. Kita melihat di sini betapa pentingnya promosi dan publisitas bisnis terhadap media. Puspo sendiri mengisahkan bahwa titik tolak melonjaknya bisnis yang ia jalani berawal dari sebuah liputan koran ternama di Medan. Suatu hari, seorang karyawati Puspo minta bantuan keuangan karena rumahnya akan disita rentenir. Padahal waktu itu bisnis ayam bakar Puspo juga belum begitu stabil. Akhirnya, dengan harapan akan balasan dari Allah, Puspo pun memberikan pinjaman kepada karyawatinya tersebut.

“Dari karyawati itulah saya dikenalkan dengan seorang wartawan yang merupakan kawan suaminya. Wartawan tersebut tertarik dengan perjalanan bisnis saya hingga memuat profil saya di korannya. Dia menulis profil saya dengan judul ‘Sarjana Buka Ayam Bakar Wong Solo’,” Puspo mengisahkan.

Untuk pertama kalinya Puspo masuk ke ranah media massa pada tahun 1992. Mungkin merupakan hasil keberkahan dari menolong orang lain, setelah profilnya dimuat media massa, keesokan harinya ratusan konsumen mendatangi warung Puspo. “Seratus potong ayam ludes terjual hari itu dan terus meningkat hingga 200 potong pada hari-hari berikutnya. Omset juga meningkat drastis,” tuturnya.

Dari kejadian ini ada dua hal yang menyadarkan Puspo. Pertama, di dalam berjualan/berbisnis perlu melakukan promosi dan publikasi serta membuat sensasi-sensasi agar nama kita dikenal masyarakat. Kedua, Puspo jadi sadar bahwa keuntungan bisnis harus disisihkan untuk membantu orang lain. Karena itulah, Puspo selalu menyisihkan sebagian hartanya sebesar 10% untuk kemaslahatan masyarakat. Dengan begitu, Puspo berharap bisnisnya bisa berjalan dengan cara yang halalan thayyiban serta penuh dengan keberkahan.

 

Belajar Bisnis Sejak SD

Kebanyakan orang memang beranggapan majunya bisnis yang dijalankan Puspo semata-mata karena sensasi poligaminya. Tapi mendengar kisah perjalanan bisnis Puspo, nampaknya ia memang pantas menggenggam kesuksesan. Perjuangan membesarkan usaha ayam bakar tidak serta merta dimulai secara dadakan dan dalam waktu singkat. Puspo sudah mulai belajar bisnis sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Latar belakang orang tuanya yang juga berprofesi sebagai penjual ayam, membuat hampir seluruh hidupnya ia habiskan untuk berurusan dengan ayam. Saat teman-temannya menghabiskan waktu luang untuk bermain, Puspo justru menghabiskan waktunya untuk membantu usaha orang tuanya.

Puspo mengisahkan, dulu sewaktu ia masih kelas 3 SD, ia pernah disuruh ibunya untuk menjualkan ayam ke guru-gurunya. Tapi karena malu, Puspo tidak menjual ayam tersebut tapi memberikan secara gratis kepada gurunya. Saat ditanya ibunya, Puspo mengatakan ayamnya sudah laku tapi uangnya nanti. Puspo berpikir kalau memang ayam buatan ibunya enak, guru tersebut pasti beli lagi. Ternyata ayam tersebut memang enak, dan benar saja, gurunya pun kembali memesan ayam buatan ibunya Puspo. Dari sini Puspo mulai berjualan. Ia menjual ayam buatan ibunya dengan harga lebih tinggi agar ia bisa mendapatkan untung.

“Awalnya saya sempat iri sama teman-teman yang bisa menggunakan waktu luang untuk bermain. Sementara saya sebelum berangkat dan sepulang sekolah harus mengurusi ayam orang tua saya. Tapi akhirnya saya bisa menikmati hasilnya. Dari jualan, saya bisa beli motor sendiri, beli baju, jalan-jalan pakai uang sendiri,” kata Puspo.

Orang tua Puspo sendiri sebenarnya menginginkan Puspo menjadi seorang guru (PNS). Lulus kuliah, Puspo pun sempat menjalani profesi sebagai guru SMA. Namun karena merasa kurang berbakat sebagai guru, Puspo pun meninggalkan profesinya dan memutuskan untuk berjualan ayam goreng kaki lima di Solo. Keputusan Puspo sempat ditentang dan diolok-olok orang-orang di sekitarnya. Puspo tetap tabah dan sabar menekuni usahanya hingga bisa berkembang. Di Solo, Puspo menjadi pionir usaha ayam goreng kaki lima.

Puspo kemudian pindah ke Medan dan sempat menjadi guru kembali selama 2 tahun, yaitu tahun 1989 – 1991. Di Medan inilah Puspo memulai bisnis Ayam Bakar Wong Solo setelah ia mengundurkan diri dari profesinya sebagai guru. Jualan ayam bakar ini, kata Puspo, merupakan wasiat dari mendiang ayahnya. Ayahnya pernah berpesan agar Puspo berjualan ayam bakar kalau mau sukses. Namun, usaha yang dijalani Puspo tidak lekas memberikan hasil yang bagus. Usaha ayam bakarnya kurang berkembang. Bahkan, istri pertamanya yang berprofesi sebagai dosen sempat  membujuk dirinya agar berhenti jualan dan kembali menjadi guru.

Kini Rumah Makan Wong Solo hasil jerih payahnya telah berkembang pesat. Dengan konsep waralaba, Puspo tidak hanya berhasil menggaet mitra di dalam negeri tapi juga merambah ke mitra-mitranya di luar negeri. Saat ini tercatat ada sekitar 106 Rumah Makan Wong Solo yang telah berdiri dari hasil kerja sama dengan mitra-mitranya. Selain ayam bakar, Puspo juga tengah menggeluti bisnis dengan produk-produk kuliner lainnya. Hasil jerih payah dengan modal materi dan tenaga yang tidak kecil yang telah ia keluarkan kini sudah bisa ia nikmati bersama keluarganya. Dari usahanya ini, Puspo juga telah membuka lapangan pekerjaan bagi seribu lebih karyawannya. Bahkan beberapa sudah ada yang membuka usaha sendiri dan sukses dengan bisnisnya.

“Prinsip saya dalam bisnis, saya hanya ingin membangun usaha yang Islami dalam rangka terhindar dari siksa neraka,” ucap Puspo seraya berharap agar bisnisnya bisa berkah dan memberikan manfaat yang besar bagi dunia dan akhirat.

Rahmat HM

Entrepreneur

Related Posts

One Comment


  1. Yunara Ningrum Nasution, 5 years ago Reply

    Subhanallah…luar biasa cerita ini..
    Apakah saya bisa mendapatkan CP Pak Puspo ini?
    Saya berniat untuk sharing tentang bisnis..
    Kebetulan saya baru terjun di dunia bisnis ini dan bisnis saya kurang begitu berkembang.
    Terima kasih


Leave a Reply → Yunara Ningrum Nasution

Connect

Photo Gallery