Bedi Zubaedi (Praktisi Franchise, Owner Quick Chicken) – Jangan Tertipu Investasi Murah dan Bebas Royalty Fee

Posted by at 1:51 pm 2 Comments Print

Banyak franchise maupun BO yang menawarkan investasi murah bahkan bebas royalty fee. Bedi menghimbau agar jangan tertipu dengan tawaran tersebut. Kenapa?

Ada beberapa franchise maupun business opportunity (BO) yang mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah karena kurang fokusnya pemilik franchise terhadap berbagai hal yang menyangkut perkembangan franchise-nya. Bedi Zubedi, salah satu praktisi franchise dan pemilik Quick Chicken, mengatakan, tidak fokusnya pemilik franchise akan mengakibatnya sebuah usaha franchise berjalan stagnan dan monoton. Hal tersebut menjadi penyebab banyaknya franchise yang bangkrut.

“Saya melihat banyak franchise yang merasa puas dengan brand-nya. Mereka merasa sudah kuat dan tidak perlu lagi melakukan perubahan dan perbaikan. Baik itu perubahan secara internal maupun secara eksternal. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk tidak fokusnya mereka dalam mengelola bisnis,” jelas Bedi.

Bedi, yang kini juga mengelola beberapa brand baru miliknya, mencontohkan beberapa hal yang menggambarkan tidak fokusnya sebuah franchise. Misalnya, franchise tidak melakukan re-training, tidak melakukan dead lock product, tidak pernah melakukan evaluasi, dan lain-lain. Bahkan, kadang mereka juga tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti renovasi ruangan, mengganti cat toko, mengamati perkembangan karyawan, dan lain-lain. Inovasi itu sangat penting agar sebuah franchise bisa melakukan perubahan dan perbaikan sehingga orang tidak bosan dengan franchise tersebut.

Sayangnya, kata Bedi, banyak investor yang terjebak dengan brand yang kuat. Meskipun brand sebuah franchise terlihat besar dan kuat, tapi belum tentu secara internal dan maintainance berjalan dengan baik. Padahal, masih kata Bedi, hal yang paling penting dari sebuah franchise adalah adanya kesinambungan dalam melakukan maintain baik secara internal maupun eksternal. “Buat apa brand bagus tapi support-nya jelek,” pungkas Bedi.

Evaluasi harus dilakukan secara rutin untuk melihat kondisi franchise-nya. Karena itu sebuah franchise juga harus memiliki tim audit yang bertugas menilai berjalannya SOP dan hasil training. Kalau hasilnya kurang bagus, harus training lagi. Kalau sudah bagus harus terus dimotivasi. Di sini kita melihat pentinganya up grading sumber daya manusia (karyawan). Karena karyawanlah yang bertugas sebagai eksekutor akhir terhadap berjalannya SOP. Sayangnya, banyak franchise yang berhenti setelah melakukan training satu kali. Setelah itu karyawan dibiarkan tanpa adanya kontrol dan evaluasi.

“Ada 3 hal yang harus dilakukan untuk memaintain SDM, yaitu kontrol, evaluasi, dan re-training. Bagus atau tidak bagus harus tetap di-training. Tidak cukup dikontrol, tapi juga harus ditingkatkan kemampuannya. Karyawan yang bagus harus diberi penghargaan, bisa dengan dinaikan posisinya atau gajinya,” tambah Bedi.

Bedi juga menghimbau kepada investor agar jangan “tertipu” dengan franchise yang menawarkan investasi murah dan bebas royalty fee/franchise fee. Saat ini bermunculan franchise maupun BO yang menawarkan investasi murah tanpa membayar royalty fee. Tawaran tersebut memang menarik bagi investor untuk jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang sangat diragukan. Bisa saja mereka hanya mengaku franchise tapi tidak punya program yang jelas di dalam sistem dan support-nya.

“Untuk melakukan maintainance yang berkesinambungan, franchise memerlukan dana. Jika tidak ada royalty fee ataupun franchise fee, lantas dari mana mereka akan mendapatkan dana untuk melakukan maintainance?” kata Bedi.

Kemudian, soal investasi murah, ini juga sering menjadi umpan yang menarik. Tapi jika ditelusuri ternyata investasi murah tersebut hanya di awalnya saja. Investasi yang dibayarkan ternyata tidak untuk memenuhi modal secara keseluruhan. Mitra/franchisee masih harus membiayai sendiri perlengkapan-perlengkapan usaha lainnya. Mereka harus beli kursi, sewa tempat, perlengkapan masak, promosi, dan lain-lain dengan uang sendiri di luar investasi. Jadi kalau dihitung jumlahnya akan sama saja dengan franchise yang menawarkan investasi lebih besar.

“Hati-hati juga dengan franchise yang samar, tidak jelas. Mereka mengaku franchise tapi sebenarnya hanya untuk menjual produk. Mereka sebenarnya hanya distributor yang dibungkus franchise,” himbau Bedi.

Kolom Pengamat

Related Posts

2 Comments


  1. adnan, 5 years ago Reply

    Good article, memang sebaiknya bisnis franchise perlu ada supporting yang kontinyu dari pemilik brand, agar produk tetap terus laris..


    • fauzie, 5 years ago Reply

      Terima Kasih atas perhatian Bapak Adnan terhadap Tabloid BO…semoga artikel yang kami tulis dapat bermanfaat untuk menjalankan bisnis anda

      Redaksi


Leave a Reply

Connect

Photo Gallery