Nadya Juwita Ayu (Owner Bebi-Luck) – Meracik Laba Dari Bubur Bayi Sehat

Posted by at 12:59 pm 0 Comment Print

Belum ada yang berani memitrakan produk bubur bayi. Hal ini dijadikan peluang oleh Nadya mengembangkan brand Bebi-Luck. Bagaimana prospeknya?

Berbisnis produk kebutuhan bayi memang bukan perkara mudah. Apalagi produk yang berkaitan dengan kebutuhan primer seperti kebutuhan makan untuk bayi. Kenapa tidak mudah? Karena makanan bayi sangat sensitif dan harus dijaga betul baik kesehatan maupun keamanannya. Sulitnya berbisnis makanan bayi ini juga diakui oleh Nadya Juwita Ayu, Owner Bebi-Luck.

“Berbisnis di bidang usaha makanan bayi memang lebih rentan, lebih sensitif, dan benar-benar harus hati-hati. Saya sendiri sebelum memasarkan Bebi-Luck harus konsultasi dulu sama ahli gizi. Kemudian produk juga harus didaftarkan di Dinas Kesehatan. Dengan begitu ibu-ibu dan costumer jadi percaya kalau produk kita memang aman,” tutur Nadya yang sudah memulai berbisnis menjual bubur bayi sejak tahun 2009.

Bubur bayi Bebi-Luck sudah mendapatkan sertifikasi dari Dinkes dan sudah diuji oleh ahli gizi. Produk ini terbukti aman dan sehat dikonsumsi oleh bayi. Pembuatannya menggunakan bahan-bahan organik tanpa zat kimia seperti pestisida. Bubur bayi Bebi-Luck juga diolah secara modern dan tanpa dicampur sedikitpun bahan-bahan kimia lainnya semacam vetsin/MSG, pewarna, maupun pengawet. Bubur bayi sehat organik ini dibuat setiap hari dan langsung diambil dari alat masak modern yang otomatis sehingga dijual dalam keadaan panas dan segar.

Awalnya Untuk Konsumsi Anak Sendiri

Awalnya, Nadya memang tidak ada niat untuk membuka wirausaha di bidang makanan bayi ini. Ide membuka Bebi-Luck muncul saat dirinya membuatkan bubur bayi untuk kebutuhan anak-anak pertamanya. Sebelumnya, wanita lulusan Sastra Jepang Universitas Bina Nusantara ini pernah bekerja sebagai karyawan swasta. Namun setelah ia melahirkan anak kembar, Nadya harus banyak-banyak istirahat. Nadya pun akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja karena ia harus memberikan perhatian yang besar untuk mengurus Si Kembar.

Ternyata pilihan berhenti kerja dan lebih fokus mengurus keluarga itulah yang justru memberikan keberkahan lain untuk Nadya. Ia sangat konsen kalau sudah menyangkut soal kebutuhan bayi termasuk kebutuhan makan mereka. “Saya konsen banget dengan makanan anak saya. Apalagi mereka masih bayi. Jadi saya benar-benar mencari tahu apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Sampai akhirnya saya bikin sendiri bubur yang benar-benar sehat buat mereka,” katanya.

Dari bubur olahan sendiri itulah awal munculnya ide untuk mendirikan Bebi-Luck. Bubur yang dibuat untuk Si Kembar ternyata menarik minat tetangganya untuk ikut mencoba. Tetangga Nadia mempunyai anak yang sulit makan. Anehnya, setelah mencoba bubur  olahan Nadya, anak tersebut jadi doyan makan dan ketagihan bubur buatan Nadya. Jadilah akhirnya tetangganya tersebut memesan bubur Nadya setiap hari. Dari situlah Nadya mulai berpikir untuk lebih serius lagi mengolah bubur bayi dan menjualnya ke konsumen lain.

Bulan demi bulan, Nadya menjalani bisnis barunya ini. Nadya mengatakan kalau ia tidak terganggu sama sekali antara waktu mengurus keluarga dan menjalani usahanya. Bahkan dengan berwirausaha ia bisa bebas mengatur sendiri waktunya dibanding kalau ia bekerja sebagai karyawan. Penghasilan yang didapat pun jauh lebih besar daripada penghasilan saat ia bekerja dulu. Untuk berjualan bubur bayi Bebi-Luck tidak dibutuhkan waktu lama. Penjual tidak perlu menunggu dagangannya sepanjang hari. Hanya dalam kurang kurang lebih 2 jam saja bubur bayi Bebi-Luck sudah habis diserbu pelanggan. Bebi-Luck biasanya mulai buka dari jam 6 pagi dan bubur sudah habis pada jam 8.  Dengan begitu tentunya masih ada banyak waktu yang bisa digunakan untuk mengurusi keluarga setelah berjualan.

Kini, dibantu suami dan keluarganya, Nadya terus mengembangkan Bebi-Luck. Sebelumnya Nadya menggunakan sistem keagenan untuk memasarkan Bebi-Luck ke tempat lain. Karena banyaknya permintaan untuk membuka outlet Bebi-Luck di berbagai tempat, maka pada awal tahun 2011 Bebi-Luck pun mulai menggunakan sistem waralaba. Tawaran waralaba Bebi-Luck disambut baik oleh pasar. Terbukti meski baru setahun berjalan dengan konsep waralaba, kini Bebi-Luck sudah memiliki 100 outlet lebih. Outletnya sudah tersebar di berbagai wilayah seperti Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Barat, dan lain-lain. Tiap outlet bisa meraup omset hingga Rp 5 juta tiap bulan bahkan bisa sampai 2 kali jika buka di tempat yang ramai.

Ke depan Nadya ingin mengembangkan Bebi-Luck dalam bentuk resto. Ia juga akan menambahkan produk lain yang juga masih untuk kebutuhan bayi bahkan hingga balita. Saat ini selain menjual bubur bayi organic yang sehat sebagai produk utama, Bebi-Luck juga menjual pudding, sup, dan nasi tim. Untuk wanita yang terjun berwirausaha, Nadya berpesan agar menjalani wirausaha dengan enjoy. “Percuma kalau wirausaha tidak dijalani dengan enjoy dan ada perasaan bersalah karena menelantarkan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. Jalani wirausaha dengan hati yang enak dan bahagia sehingga tidak menganggu kewajiban rumah tangga,” begitu pesan Nadya.

Rahmat HM

Entrepreneur

Related Posts

Leave a Reply

Connect

Photo Gallery