Kedai Kopi – Peluang Bisnisnya Sedahsyat Seruputannya

Posted by at 10:57 am 0 Comment Print

Indonesia layak disebut sebagai surga industri kopi dengan berbagai segmen pasar. Otomatis peluang bisnisnya terbuka lebar.

Dah ngopi belum.” Pertanyaan ini seringkali menjadi kalimat pembuka jika Anda bertemu klien atau teman. Maklum, minum kopi sudah menjadi budaya. Menurut catatan Wikipedia, kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) masa penjajahan Belanda di Indonesia, saat itu Belanda membuat perkebunan komersial pada koloninya di pulau Jawa, Sumatera dan beberapa wilayah Indonesia Timur. Jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia adalah kopi jenis Arabika yang didatangkan langsung dari Yaman. Pada awalnya pemerintah Belanda menanam kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Kopi juga ditanam di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Timor dan Flores.

Melihat fakta sejarah, pantas jika Indonesia masuk sebagai negara penghasil kopi. Nah, budaya minum kopi juga semakin merebak karena produksi kopi berlimpah dan dijual dengan harga terjangkau sesuai kelas dan segmennya. Ada segmen butik, modern market, coffee shop, kedai kopi atau warung warung kopi yang menyediakan mesin penyaji kopi yang saat ini harga cukup terjangkau. Merebaknya tren ini, dalam kacamata Anke Dwi Saputro, Chief Consultant YouBRand, merupakan imbas dari teori the flaying duck. “Pop culture yang datang dari negera maju pasti akan diserap oleh negera berkembang,” katanya. Anke melihat tren perkembangan kedai kopi pasti akan selalu naik dan peluang bisnisnya masih terbuka lebar. “Saya rasa tren ini akan lama,” katanya.

Karena permintaan pasar masih terbuka, dan masuknya beberapa brand asing seperti Starbucks, Coffee Bean, dan beberapa perusahaan waralaba dari luar negeri turut memanaskan kompetisi ini. Menariknya, banyak pemain lokal yang rame-rame membuka kedai kopi dengan konsep yang berbeda dan membidik low segment. Saking maraknya tren ini, banyak pemain lokal yang membesut bisnis kedai kopi dengan sistem kemitraan atau business opportunity (BO). Ternyata ‘peperangan’ di lini ini cukup panas.  Bahkan pemain besar seperti Kapal Api dan Torabika pun ikut ‘nyemplung’ di pasar ini. Tak cuma itu, beberapa pemain kelas UKM pun ada yang menyeruak menjadi rising star di bisnis kedai  kopi, sebut saja Javapuccino dan Semerbak.

Javapuccino  : Kepak Sayap Sang Market Leader

Dua nama terakhir membuat bisnis kedai kopi kian ramai. Menurut Asmi Kammury, Owner Javapuccino, saat ini gerainya sudah mencapai 358 outlet. Tak puas bermain di segmen kedai kopi, Asmi berencana membuka Coffee shop yang akan di-launch Februari 2012. “Targetnya bisa buka 50 coffee shop tahun 2012,” katanya. Demand pasarnya, Asmi menilai, sangat besar. Karena aktivitas hangout sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat saat ini. Outletnya akan ada di Jakarta dan beberapa kabupaten di Indonesia. Nilai investasinya sebesar Rp 90 juta sampai Rp 175 juta plus semua peralatan, bahan baku, support management, dan stok awal makanan ringan. Daerah potensial yang akan dirambah Asmi meliputi Jakarta, Riau, Medan, Semarang, Bandung,  dan Surabaya. “Ini adalah awal kami naik kelas,” kata Asmi, yang juga menyabet predikat sebagai Franchise & Business Opportunity Market Leader 2011 versi Majalah Info Franchise.

Strategi komunikasi dan gencarnya pemasaran, serta focus menyasar market sekolah membuat Javapuccino melenggang dengan tingkat pertumbuhan luar biasa. Bahkan ia mampu merangkul Veneta System untuk menggaet pelanggan dengan sistem membership. Tak hanya itu, Esia pun mau bekerjasama dengan Asmi karena melihat performa bisnisnya yang cukup baik. “Itu semua bukan kebetulan, ada peran banyak pihak yang membuat saya bisa seperti ini,” kata Asmi.

Semerbak Coffee :  Bergerak Taktis Demi Kelangsungan Bisnis

Lain halnya dengan Semerbak Coffee. Brand asal Depok, Jawa Barat yang dikomandani Iwan Agustian dan Muadzin Jihad yang didirikan pada 2009 lalu pun tak kalah mantap. Penetrasi di pasar pun cukup kuat. Bahkan saat ini Semerbak sudah mempunyai 340 outlet dan mulai bermain di level café dan membuka pasar baru dengan brand kopi Jago. Tak cukup sampai di situ, ia pun bekerjasama dengan beberapa building management dalam hal penyediaan kopi serta mesinnya. “Kami tengah membidik kerjasama dengan Indosat,” katanya.

Hal itu ia lakukan karena pertumbuhan dari gerai waralaba sulit diharapkan.  “Tahun 2012 saya fokus memaintain mitra yang sudah ada,” katanya. Namun jika ada yang masih berminat menjadi mitra Semerbak, Iwan tak menutup pintu. “Kalau ada kenapa ditolak,” imbuhnya. Sebab semua bajet  promosi  dibuang untuk memuaskan mitra dan dengan membuat program yang langsung bisa dirasakan oleh mitra, seperti program minum kopi dapat Blackberry, dan lainnya. Terkait dengan pengembangan channel lainnya, Iwan beralasan semua itu ada life cycle-nya.  Nah, mumpung belum terlalu jauh, ia mulai mengembangkan pola pemasaran ke channel lain. Untuk brand  kopi jahe Jago dan kopi Jago, Iwan mengakui,  mata rantainya terlalu panjang.  “Dengan harga jual Rp 1000/ sachet, tentu marginya tipis sekali,” katanya.  Awalnya, Iwan bercerita, sales diarahkan ke warung-warung,kemudian ia ciptakan agen dan distributor besar. “Saat ini kami baru buka di wilayah Bandung, Bekasi, Balaraja, Cikupa,” katanya. Sedangkan  Depok sendiri, ia mematok target kontribusinya sebesar 50% di semester pertama 2012.

Struktur pasarnya Semerbak Coffee sudah sangat bagus, sertifikat halal MUI pun ada, Kesehatan ada. Bahkan ia berani menantang siapa yang punya sertifikat halal di kopi. Untuk café, Iwan mengaku, Café Semerbak yang terletak di Jl. Arif Rahman Hakim Depok, hanya protype dan untuk branding semata.“Rugi pun saya laksanakan,” katanya.  Iwan berharap, dengan apa yang ia lakukan saat ini, orang akan semakin kenal dengan Semerbak Coffee. “Saat ini kami fokus membangun infrastruktur pasar sebagaimana proses business as usual, waralaba jalan dan channel lainnya bisa berkembang,” harapnya.

Mahmud

Top Entrepreneur

Related Posts

Leave a Reply

Connect

Photo Gallery